Selasa, 25 Februari 2014

Adi cs ikut Penghijauan di Kaki Gunung Kawi




Adi cs ikut Penghijauan di Kaki Gunung KawiAdi cs ikut Penghijauan di Kaki Gunung Kawi
Sejumlah Supporter ProFauna asal Malang antara lain Adi, Hanggar, Asti, Kohar, Canakya Galerita, Didin, Didit, dan masih banyak lainnya, terlibat aktif dalam program penghijauan di Kaki Gunung Kawi yang diadakan oleh P-WEC, ProFauna dan masyarakat Desa Kucur minggu lalu (10/01/2010). Dalam penghijauan itu ditanam sekitar 2000 bibit di berbagai titik. Supporter ProFauna kebagian tempat di Bon Keke yang berjarak sekitar 2 km dari P-WEC.
Selain Supporter ProFauna, sejumlah staf ProFauna termasuk pendiri ProFauna juga ikut terjun langsung berkotor-kotor dengan lumpur untuk menanam berbagai jenis pohon yang kebanyakan didominasi jenis nangka. Meski tanah licin dan kotor, Supporter dan staf ProFauna penuh dengan semangat menanam pohon bersama masyarakat.
Usai menanam pohon, para Supporter ProFauna itu langsung mengadakan pertemuan bulanan. Dalam pertemuan yang dipandu oleh Pendiri ProFauna Rosek Nursahid itu dijelaskan tentang beberapa program terkini dari ProFauna. Salah satu program yang menarik perhatian Supporter adalah adanya divisi-divisi baru yang akan mewadahi Supporter yang ingin terlibat aktif dalam kegiatan ProFauna/P-WEC. Divisi-divisi itu adalah Divisi Kampanye, Edukasi dan Investigasi.
sumber : http://www.profauna.org/content/id/supporter/supporter-corner/2010/adi_cs_ikut_penghijauan_di_kaki_gunung_kawi.html

Penghijauan di Halaman Rumah Kita


Rumah yang sejuk , segar dan nyaman merupakan idaman dari seluruh keluarga. Agar keinginan tersebut terwujud maka perlu kita lakukan penghijauan sekitar rumah kita. Pada masa sekarang ini , terutama pada pemukiman padat penduduk sulit kita temukan halaman kosong. tiadanya halaman kosong tidak merupakan hambatan untuk melakukan pernhijauan. asal kan kita ada kemauan, kreatifitas, ketekunan dan kesungguhan semuanya akan terwujud, solusinya adalah bertanam dalam pot, secara horisontal maupun vertikal.Tanaman dalam pot memrlukan tempat yang relatif sempit, apalagi dipadu bertanam secara vertikal, dengan gantunga, rak atau dengan bambu tegak.

Bagimana tanaman dapat tumbuh segar? jika semua nutrisi dan cahaya tercukupi, tanaman golongan talas kurang perlu sinar maka kita tempatkan pada tempat yang agak dalam kurang intensitas sinar, sedang golongan palam, perlu banyak sinar. Kemudian pemupukan dan penyiraman dilakukan secara rutin. Maka tanaman akan tumbuh subur hijau warna – warna , enak dipandang, udara menjadi sejuk dan segar, rumah tampak bagai istana. Selamat menata rumah idaman dengan penghijauan.

sumber : http://dodiutomo.blogspot.com/2011/05/penghijauan-di-halaman-rumah-kita.html

Penghijauan dengan Tanaman Produktif

Setiap saya melihat pohon-pohon rindang di tepi jalan raya dan jalan tol serta taman-taman kota kok hati saya selalu bertanya-tanya kenapa ya tanaman yang ditanam oleh pemda dalam hal ini dinas pertamanan kota jarang terlihat tanaman yang menghasilkan? Bahkan ada tanaman yang berduri. Saya hanya berfikir seandainya tanaman perindang di tepi-tepi jalan adalah tanaman produktif misalnya tanaman buah, tentu disamping memberikan keteduhan dan kesegaran udara juga memberikan buah yang bermanfaat. Tentu saya juga memahami bahwa tidak mungkin untuk tanaman yang ditanam di tengah jalan menggunakan tanaman yang berbuah.

Mengamati tanaman disebagian besar rumah juga jarang terlihat tanaman hias atau tanaman perindang yang menghasilkan. Jika setiap rumah punya 5 pot yang berisi tanaman cabe atau tomat atau tanaman sayuran lainnya tentu akan memberikan penghematan buat kita. Daun slam, laos kunyit dan jahe tidak harus beli di pasar. Jika tetangga kehabisan tinggal ngambil di halaman. Kalau memang dianggap tidakk materii kan bisa penghematan itu dipakai untuk meningkatkan bonus ke assisten rumah tangga kita.
Padahal ada sebuah hadis (mohon dicek dan dikoreksi jika salah) yang kalau nggak salah bunyinya kurang lebih demikian:
Jika buah dari tanaman yang engkau tanam diambil oleh hewan maka itu adalah sedekah, jika diambil oleh manusia juga sedekah. 

Apakah pemda kita, kita tidak ingin bersedekah?
Jika iya mari kita galakkan penghijauan atau tanaman hias yang sekaligus menghasilkan, sebab itu bisa dijadikan sarana untuk bersedekah, sehingga semua mendapat berkah.

Keterangan Foto: pohon mangga samping rumah yang sudah mulai berbuah meskipun buahnya masih kecil
                           dan foto bawah setelah mangga agak besar tapi belum siap panen

sumber : http://big-sugeng.blogspot.com/2010/08/penghijauan-dengan-tanaman-produktif.html

Penghijauan


SMA Negeri 1 Betung Memdapat Bantuan 4 buah Pohon Trembesi dari Bantuan Presiden yang disampaikan oleh Dan Ramil Kecamatan Betung yang diterima langsung oleh Kepala SMA Negeri 1 Betung dan Langsung diadakan penanaman Pohon Trembesi. Terima Kasih Pak Presiden. Terima Kasih Pak Dan Ramil Kecamatan Betung


      sumber :http://smansabetung.blogspot.com/2010/11/penghijauan.html  

PENGHIJAUAN DI HULU SUNGAI CITARUM

Penghijauan Di Hulu Sungai CitarumMybdg.com – Penghijauan Di Hulu Sungai CitarumBandung – Sekitar 56 hektare lahan kritis di hulu Sungai Citarum, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, ditanami sekitar 21.000 bibit tanaman keras. Selama ini, kerusakan di hulu sungai dituding menjadi sumber utama penyebab terjadinya sedimentasi Sungai Citarum.
Kegiatan tersebut melibatkan Pemkab Bandung, Perhutani, LSM, organisasi penggiat lingkungan, dan ratusan masyarakat setempat. Penanaman pohon dilaksanakan di Kampung Pasirmunding, Desa Cibeureum. Diharapkan gerakan penghijauan ini bisa mengurangi sedimentasi, dan menjadi tempat menyimpan cadangan air ketika musim kemarau melanda.
Bupati Bandung, Dadang M. Naser menuturkan, gerakan penghijauan ini telah menjadi perhatian serius Pemkab Bandung, terutama di lahan-lahan kritis seperti di seputar hulu Sungai Citarum yang sebagian lahannya banyak digunakan oleh masyarakat setempat untuk kegiatan pertanian jangka pendek. Kini, lahan hutan itu banyak ditanami tanaman kentang dan sayuran.
Menurut Bupati, meski bercocok tanam sayuran menguntungkan, namun di sisi lain kegiatan pertanian jangka pendek di hulu Sungai Citarum membawa dampak negatif terhadap lingkungan. Sungai Citarum terus mengalami sedimentasi, sebagai akibat tanah yang berada di lahan pertanian tersebut tergerus masuk ke Sungai Citarum setiap musim hujan. “Jangankan sungai, jalan raya saja di Kertasari ini banyak tertutup lumpur akibat longsoran tanah pertanian,” ujar Dadang Naser di Kertasari, Jumat 28/12/12.
Bupati mengajak kepada seluruh warga Kertasari untuk selalu peduli terhadap kelestarian lingkungan. Ia pun meminta kepada warga setempat untuk rajin menanam berbagai jenis tanaman keras di sekitar pekarangan rumahnya masing-masing. “Kalau lingkungan di Kertasari ini rindang oleh pepohonan, yang untung warga Kertasari sendiri karena udara menjadi bersih, air melimpah, tanah menjadi kuat karena terikat oleh akar tanaman,” jelasnya. Penghijauan Di Hulu Sungai Citarum.
sumber:http://www.mybdg.com/penghijauan-di-hulu-sungai-citarum/1631/

Mandalamekar Desa Berwawasan Lingkungan


Banyak orang menyatakan bahwa saat ini kita tengah menghadapi yang namanya pemanasan global atau global warming dalam bahasa kerennya. Banyak kalangan beropini tentang bahaya yang dapat ditimbulkan dari dampak pemanasan global ini. Tapi rasanya semua masih dalam batas opini, pendapat dan anjuran semata untuk mengurangi atau bahkan menghindari dampak dari pemanasan global ini, sedangkan tindakan atau implementasi di lapangan bisa dikatakan masih jauh dari harapan.
Semua boleh beropini, semua boleh berkampanye tentang hal ini bahkan harus. Namun yang jauh lebih penting adalah tindakan nyata dalam mencegah dampak pemanasan global tersebut. salah satu cara yang paling banyak dikampanyekan adalah dengan menanam pohon, bahkan Departemen Kehutanan membuat kampanye dengan jargon “One man One tree” (satu orang satu pohon). Kampanye ini dimaksudkan agar ada aware dari masyarakat agar mau membantu pemerintah dalam mencegah efek lebih besar dari pemanasan
Tak banyak pemerintah di pedesaan yang paham dan mengerti tentang apa itu global warming, apa dampaknya dan bagaimana cara menanggulanginya? Disebuah desa terpencil yang tak pernah diperhatikan oleh pemerintah Kabupaten terlebih oleh pemerintah Provinsi dan Pusat, apa yang saat ini sedang banyak dikampanyekan diberbagai media tentang pencegahan pemanasan global sudah lama dilakukan oleh masyarakat di desa tersebut.
Desa tersebut bernama Desa Mandalamekar Kecamatan Jatiwaras Kabupaten Tasikmalaya – Jawa Barat. Desa ini memiliki sebuah program reboisasi atau penghijauan massal dan berkesinambungan, untuk merealisasikannya Tokoh Masyarakat membuat sebuah naungan berupa paguyuban dengan nama “Mitra Alam Munggaran”, diharapkan dengan adanya paguyuban ini semua program yang ada dapat terealisasi dan terarah.
Program Unggulan Penghijauan ini di mulai dengan membuat persemaian untuk benih, dan mempersiapkan lahan/ tanah desa yang tidak tergarap untuk ditanami. Yang menjadi fokus utama adalah lahan kosong di Karang Soak dan Pasir Salam, selain untuk ditanami kedua lahan didaerah ini juga nantinya akan dijadikan sebagai objek Agro wisata dan wisata alam serta Outbond.
Karena tanpa disadarai di kedua lahan tersebut begitu banyak potensi wisata yang tersimpan, seperti Air Terjun dan Gua-gua. Dalam merealisasikan program ini pemerintah desa tidak bekerja sendiri karena selain didukung paguyuban Mitra Alam Munggaran, mereka juga didukung oleh segenap masyarakat dan beberapa sekolah yang ada di desa tersebut.
Program yang sudah dimulai sejak setahun yang lalu ini, hingga sekarang sudah menanam lebih dari 5000 pohon, adapun pohon yang ditanam antara lain Pohon Picung, Pohon Karet dan Pohon Jati. Pohon-pohon tersebut diyakini memiliki ketahanan terhadap hama dan bisa menyerap air. Program Penghijauan yang digagas ini selain untuk menceag pemanasan global, juga untuk mencegah terjadinya longsor dan krisis air di masa depan. Disamping itu, hutan-hutan yang ditanami diharapkan bisa menjadi daerah resapan air dan menjadi sumber mata air bagi kelangsungan masyarakat sekitar yang sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani.
Semoga saja kesadaran kecil dari desa yang terpencil ini, bisa menggugah, bisa menjadi contoh bagi Desa yang lain bahwa dalam membangun kita tidak perlu selalu menunggu uluran tangan dari pemerintah. Inisiatif dan partisipasi masyarakat lokal akan jauh lebih bisa dirasakan hasil dan manfaatnya, karena jika kita hanya menunggu uluran tangan dari pemerintah entah tahun berapa kita bisa bangkit. Dimulai dari hal kecil yang dilaksanakan secara konsisten. 
sumber : http://denisuryana.wordpress.com/2009/12/04/mandalamekar-desa-berwawasan-lingkungan/

Penghijauan Lingkungan Sebagai Solusi Utama Agar Jakarta Tidak Terkena Banjir Besar Lagi

Lagi-lagi bencana akibat kerusakan alam dan lingkungan terjadi di puncak musim hujan kali ini. Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) terkena banjir, di sekitar Jawa Barat lainnya seperti Karawang, Indramayu tidak luput dari banjir dan bahkan Bandung Selatan dilanda banjir besar disertai bencana tanah longsor.

Banjir Besar Jakarta telah terjadi pada tahun 2002, 2007, dan kalau mengikuti siklus lima tahunan banjir besar akan terjadi lagi tahun 2012. Namun pada kenyataannya pada tahun 2008 juga terjadi dan memang terjadi lagi di tahun 2010 ini, sehingga siklusnya maju menjadi dua tahunan. Kampung Pulo sempat banjir sampai 3 meter dan merupakan areal terparah banjir Jakarta tahun ini. Banjir terjadi akibat pintu air Manggarai tidak sanggup menerima limpahan banjir kiriman dari areal hulu Bopunjur (Bogor, Puncak dan Cianjur) via pintu air Katulampa. Kesemua banjir tersebut diawali dengan hujan lebat malam dan dini hari kadang berlanjut hingga pagi hari di daerah hulu, dan akan semakin parah menjadi banjir besar, jika ditambah hujan yang terus menerus secara lokal di Jakarta. (Lihat artikel Waspadai Banjir Besar Jakarta: Antara Prediksi BMKG dan Ramalan Mama Lauren)

Dibutuhkan kebijakan yang serius, menyeluruh dalam arti tidak setengah-setengah untuk mengatasi banjir di Jakarta ini, selain letak geografisnya yang memang kurang menguntungkan karena berada di dataran rendah dekat pantai, masih banyak hal yang menyebabkan terjadinya banjir di Ibu Kota Jakarta.


Namun pasti ada solusi untuk mengatasi masalah banjir yang terus berulang, bukan hanya lima tahunan menjadi dua tahunan dan jangan sampai menjadi acara tahunan yang sungguh memalukan, mengingat posisi Jakarta yang sangat strategis sebagai Ibu kota Negara dan pintu gerbang utama Indonesia. Pada peristiwa banjir besar Jakarta yang lalu, kegiatan ekonomi ibukota nyaris lumpuh total. Jalan tol Bandara Sukarno Hatta pun tak terhindar dari banjir yang mengakibatkan jadwal penerbangan jadi turut banyak yang dibatalkan. Penghijauan Lingkungan adalah solusi utama untuk mengatasi banjir besar Jakarta agar tidak terus terulang lagi dan terulang lagi.

Penghijauan Lingkungan sebagai area resapan air dan paru-paru kota.
Untuk mendukung habitat lingkungan perkotaan, menurut PBB, idealnya disediakan ruang terbuka hijau sekitar 30 % dari luas kota yang bersangkutan. Kota Jakarta sekarang ini hanya memiliki ruang terbuka hijau tidak lebih dari 10 %. Minimnya area resapan air mengakibatkan aliran air hujan di permukaan tanah akhirnya akan menggenang dan menimbulkan banjir.

Selain berfungsi sebagai area resapan air dan ruang interaksi sosial, ruang terbuka hijau ini semakin penting artinya dalam mendukung program ‘Go Green’ dalam rangka mengatasi Pemanasan Global (Global Warming) dan Perubahan Iklim ( Climate Change) yang dialami Bumi kita, sekarang ini. Selain itu juga penghijauan berperan sebagai paru-paru kota dan menyerap polusi udara terutama gas emisi CO2 yang konsentrasinya semakin menumpuk di atmosfer Bumi membentuk lapisan yang menyebabkan suhu di Bumi semakin panas.



Hutan dan taman kota seperti di Monas dan taman lingkungan seperti Taman Menteng dan yang lainnya, sangat diperlukan bahkan diperbanyak agar penghijauan di Kota Jakarta mencapai prosentase ideal atau setidaknya mendekati ideal angka 30 %.


Kebijaksanaan Ancol mengubah lapangan golf seluas 33,6 ha menjadi wahana “Ecopark” demi mewujudkan ‘Green Ancol’pastinya lebih bermanfaat secara lingkungan. Hari Rabu (24/02) pagi, para siswa sekolah dasar di sekitar Ancol yang berjumlah ratusan murid dikerahkan untuk target menanam 10.000 pohon. Kegiatan ramah lingkungan semacam ini patut didukung dan kita apresiasi.

Di bekas lapangan golf ini, segera dibangun wahana ecopark yang berbasis edutainment. Ecopark akan dilengkapi berbagai sarana yang bisa dimanfaatkan bagi pendidikan lingkungan hidup, seperti taman flora, fauna, dan fasilitas multifungsi untuk permainan petualangan di lahan terbuka (sumber berita Kompas cetak 25/02/2010 halaman 25).


Kembalikan penyimpangan peruntukan dan penggunaan lahan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai areal terbuka hijau. 

Penyempitan alur sungai akibat bantarannya banyak digunakan untuk permukiman penduduk juga menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir. Idealnya, lahan di sepanjang DAS ini ditertibkan dan peruntukannya dikembalikan sebagai jalur areal terbuka hijau minimal 5 meter ditambah jalan inspeksi untuk perawatan sungai dan penghijauan agar tetap berfungsi secara optimal. Penanaman pohon peneduh dan rumpun bambu bisa dipertimbangkan, mengingat pohon jenis ini sangat potensial untuk berfotosintesis sekaligus menangkap emisi CO2 di udara, dikarenakan penanaman bambu seluas satu juta are akan mengurangi hingga 4,8 juta ton emisi CO2 per tahun. *)


Dengan melakukan ini, otomatis ruang terbuka hijau di Jakarta akan bertambah secara signifikan. Sebaiknya penertiban dilakukan secara manusiawi dan terencana, setelah disediakan area pemukiman baru pengganti, seperti rumah susun bersubsidi yang bisa dicicil oleh warga, khususnya mantan warga penghuni sekitar bantaran sungai. Areal pemukiman baru pengganti ini pun harus menyediakan areal terbuka hijau agar tetap sehat dan nyaman dihuni.

Hijaukan ruang terbuka di sekitar Danau Buatan Kanal Banjir Barat (KBB) dan Kanal Banjir Timur (KBT). 


Penghijauan di sepanjang DAS Ciliwung, memang sangat mendesak dan harus segera dilakukan, demikian pula dengan penghijauan di sekitar KBB dan KBT juga harus dijadikan areal terbuka hijau yang bisa meningkatkan daya serap air hujan. Jika dalam penerapannya ditata dengan baik menjadi taman ditambah jalur pejalan kaki (jogging track) untuk olahraga, tentunya sangat indah dan nyaman serta meningkatkan kualitas udara lingkungan sekitar.
Khusus KBB dan KBT, jika hutan kota disekitarnya bisa dibuat terencana dengan baik, bisa dijadikan obyek rekreasi hijau alternatif yang sangat menyehatkan bagi warga Jakarta.

Koordinasi dengan penataan penghijauan lingkungan hutan pada daerah hulu Bopunjur.Kondisi Bogor Puncak Cianjur (Bopunjur) sebagai daerah resapan air yang telah mengalami banyak perubahan fisik terutama akibat penyimpangan dalam peruntukkan lahan, berperan besar memicu aliran air hujan yang nyaris seluruhnya bisa masuk dan tumpah mengalir ke Jakarta. Banyak pohon-pohon besar di hutan hulu Sungai Ciliwung ditebang dan dikorbankan untuk dijadikan rumah peristirahatan, bangunan lain atau pun peruntukan lainnya. Idealnya penghijauan yang harus dijaga kelestariannya pada areal hulu ini minimal 30 persen, namun kenyataannya sekarang banyak yang rusak dan berubah fungsi. Oleh karena itu, penghijauan hutan kembali di areal hulu Ciliwung ini adalah mutlak harus dilakukan, agar daya resap air hujan semakin optimal serta tidak langsung masuk ke areal sungai.


Hal yang mendesak lainnya adalah dicari solusi agar air hujan terutama dengan kapasitas curah yang tinggi, dapat ditahan atau ditunda alirannya jangan langsung sekaligus tumpah ke Pintu Air Katulampa. Salah satunya dengan cara membuat ‘danau buatan’ sebagai penampung air dengan kapasitas memadai dengan lokasi sebelum masuk ke Katulampa. Danau buatan semacam banjir kanal ini berfungsi sebagai filter agar tidak semua air hujan di areal Bopunjur tumpah langsung ke Katulampa. Proyek ini bisa segera direalisasikan dengan kerjasama antar gubernur bahkan sampai tingkat kementerian karena sudah menyangkut Ibukota Negara. Peran swasta khususnya perusahaan besar di Jakarta untuk turut serta membiayai tentunya sangat diharapkan, agar masalah banjir bisa diatasi secara tuntas.

Kegiatan penghijauan hutan hulu Ciliwung dengan menanam 4 ribu pohon yang dilaksanakan Nokia (Program Nokia Give & Grow) bekerja sama dengan TES-AMM Indonesia dan WWF Indonesia patut diacungi jempol. Hal ini merupakan aksi nyata dari peran kepedulian perusahaan swasta atas masalah lingkungan yang terjadi di Jakarta sebagai ibukota Negara.

Aksi hijau penanaman pohon mulai dilakukan di area hulu daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung, desa Cikoneng, Cisarua, Bogor pada awal Februari ini dengan luasi areal sekitar 10 ha. Aksi hijau dengan cara menukar HP bekas dengan tanam pohon ini mempunyai manfaat langsung dalam mencegah terjadinya banjir di Jakarta.

Perluas Areal Penghijauan Mangrove.
Perlunya ditinjau lagi Amdal dari kebijakan reklamasi pantai di Utara kota Jakarta, terutama yang menggusur areal hutan bakau (Mangrove) yang sangat berperan menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati yang ada di sepanjang pantai utara Jakarta.


Hutan bakau merupakan perisai alam utama untuk menghadapi badai dan kenaikan muka air laut (Rob). Oleh karena itu penanaman kembali Mangrove, sangat mendesak dilakukan, khususnya dalam rangka mengatasi masalah banjir di Jakarta.

Green Building’ dan Sumur Resapan sebagai solusi ramah lingkungan.
Penerapan ‘green building’ pada Ibukota Jakarta, khususnya pada bangunan perkantoran baik pemerintah mau pun swasta, jika perlu juga diterapkan pada perumahan warga-nya. Pada ‘bangunan hijau’ ramah lingkungan ini, sumber energi menggunakan energi terbarukan dari alam seperti panel matahari atau kincir angin. Hemat energi dan air diterapkan pada operasional sehari-hari. Pada halaman dan dak atap bangunan bisa diolah menjadi taman dengan berbagai tanaman untuk menciptakan lingkungan hijau.

Karena menurut penelitian ahli lingkungan dunia:
Bila satu juta atap rumah ditanami tumbuhan, 595.000 ton CO2 per tahun dapat dikurangi.
Pemasangan 100.000 turbin angin skala rumah tangga akan mengurangi 900.000 ton CO2 per tahun.
Jika satu juta rumah menggunakan sel surya untuk sumber energinya, kita bisa mengurangi emisi karbondioksida sebanyak 4,3 juta ton per tahun. *)




Kebijakan setiap bangunan di Jakarta memiliki sumur resapanmasing-masing sangatlah positif dalam rangka mengatasi masalah banjir. Demikian pula partisipasi aktif masyarakat untuk membuat resapan air berupa bioporibeserta penghijauannya di halaman rumah masing-masing sangat berdampak positif sebagai solusi mengatasi banjir, jika sebagian besar warga mau melakukannya.

Hal-hal lain yang juga sebaiknya dilakukan sebagai solusi mengatasi banjir adalah:

Perbaiki sistem drainase dan tempat penampungan air hujan.
Saluran air di wilayah kota Jakarta banyak yang tak lagi memadai dan bahkan sering diabaikan dalam menjaga fungsi yang semestinya akibat adanya kepentingan lain. Banyak saluran air yang ‘mampet’ karena banyak sampah dan tanah bekas galian beberapa instansi secara tumpang tindih dan silih berganti, sebentar ada galian untuk PAM terus PLN nantinya lagi telpon, sepertinya tidak ada koordinasi antar instansi di pemda.

Dengan kondisi ini, sistem drainase yang ada menjadi belum optimal dalam mendistribusikan air limbah dan air hujan yang datang. Jakarta berada pada dataran rendah, malah sebagian lebih rendah dari permukaan laut. Sehingga air pasang laut (Rob) juga menjadi ancaman serius. Oleh karena itu, memerlukan suatu sistem yang terintegrasi untuk mendisribusikan air buangan ini, terutama saat terjadinya hujan.

Kemudian 'situ' (semacam danau) yang dulu pernah ada dan berfungsi sebagai penampung air, kini sudah beralih fungsi menjadi komplek hunian baru dan bahkan hampir tidak ada lagi. Untuk menggantikan fungsi situ yang hilang, pembangunan Banjir Kanal memang harus dilakukan sebagai tempat penampungan air hujan yang baru dan harus sudah tembus sampai ke laut agar genangan banjir bisa disalurkan dengan segera.

Ubah perilaku buang sampah sembarangan.
Perilaku buruk buang sampah di jalan, tampaknya hanya sepele, tapi selanjutnya sampah tersebut bisa terbawa angin masuk selokan sampai di sungai dan pintu air dan sebagian lagi terbawa arus hingga sampailah ke laut. Sampah anorganik seperti berbagai jenis plastik, styrofoam, kemasan aluminum foil bekas makanan ringan, minuman dan sebagainya, sangat mudah terbawa arus air. Betapa menyedihkan, beberapa pintu air dan sungai di Jakarta seolah telah menjadi tempat pembuangan sampah terbesar. Pada setiap peristiwa banjir, sebagian besar dari sampah tersebut akan semakin cepat masuk ke sungai bahkan sampai ke laut.

Untuk diketahui sampah non organik seperti plastik baru bisa terurai setelah mencapai ratusan tahun dan mengakibatkan terganggunya keseimbangan ekosistem aneka satwa yang ada di sungai dan laut. Oleh karenanya perlu penyuluhan untuk meningkatkan budaya bersih di masing-masing lingkungan, terutama menyangkut perilaku buang sampah sembarangan ini.

Cegah penurunan permukaan tanah agar tidak meluas.
Terjadinya penurunan permukaan tanah di wilayah Jakarta terutama di bagian Barat dan Utara, terjadi akibat tanah yang belum padat dan gencarnya pembangunan fisik untuk perumahan/perkantoran ditambah tidak terkendalinya pembuatan sumur air yang disedot langsung dari tanah.

Akibat lainnya adalah masuk dan merembesnya air laut menyebabkan air tanah berubah menjadi asin dan tidak dapat diminum. Semua area yang mengalami penurunan permukaan tanah sudah pasti menjadi wilayah genangan banjir.

Cegah banjir besar dengan pembangunan dinding penahan banjir (dam).
Pembangunan proyek Banjir Kanal Timur (BKT) sejatinya berfungsi sebagai pelengkap Banjir Kanal Barat (BKB) dan diharapkan bisa berperan untuk menampung segala tumpahan air hujan terutama pada saat kritis dipuncak musim hujan. Pada kenyataannya saat puncak musim hujan kemarin, banjir tetap melanda Jakarta, padahal BKT sudah tembus ke laut. BKT tetap berfungsi terutama dalam hal mempercepat distribusi air banjir menuju laut. Sebaiknya berbagai pihak yang terkait dalam hal mencari solusi banjir, melakukan kajian kembali. Apakah semua akar permasalahan banjir seperti tersebut di atas sudah ditangani dan dikoordinasikan dengan baik atau belum sepenuhnya ?

Hal-hal tersebut di atas jika dilaksanakan dapat meminimalkan bencana terjadinya banjir. Secara makro kita bisa belajar dari Negara Belanda yang wilayahnya di bawah permukaan air laut tapi tetap mampu mengelolanya, agar tidak terjadi banjir.
Secara mikro, di saat Jakarta dilanda banjir besar tahun 2008 ada satu lingkungan di sekitar Muara Karang Pluit Jakarta Utara, yang biasanya selalu langganan banjir, bisa terhindar dari bencana ini, sementara Kelapa Gading dan sebagian besar areal Jakarta saat itu terkena banjir besar (Informasi ini didapat dari teman penulis yang kebetulan tinggal disana). Lalu, mengapa bisa ?
Ya… bisa dicegah !!! Karena seluruh warganya secara bahu membahu mau tahu dan mau bergotong royong untuk membeli pompa air yang selalu siap berfungsi menyalurkan air dari sungai penampung untuk disalurkan ke bendungan sungai banjir kanal yang menuju ke laut.

Hal yang sama tentunya bisa diterapkan pada sungai banjir kanal baik yang sudah ada di Barat mau pun di Timur, dilakukan peninggian dinding penahan banjir seperti dam pada salah satu tepi sungai minimal 150 cm dari muka jalan raya (bisa juga disesuaikan dengan kondisi peil banjir besar yang lalu), di sepanjang aliran sungai banjir kanal yang menuju ke laut. Tentunya hal ini harus dilengkapi dengan keberadaan sungai pembagi dan penampung di sepanjang tepi Sungai utama banjir kanal. Dan yang paling penting disediakan pompa air yang selalu siap dalam kondisi prima untuk menyalurkan ke Sungai utama banjir kanal dan dalam jumlah yang sangat memadai disesuaikan dengan jumnlah kebutuhan di lapangan.

Belajar dari pengalaman Negara Belanda, kita pun bisa mulai menerapkan pemasangan dam (bendungan) disepanjang pantai utara Jakarta untuk mengimbangi dinding dam tepi sungai pada KBB mau pun KBT. Hal ini juga diperlukan sebagai antisipasi menghadapi kenaikan peil muka air laut akibat mencairnya es di kutub utara dan selatan yang akan menjadi kenyataan jika warga Bumi kurang peduli pada bahaya Pemanasan Global (Baca juga: Indonesia Di Ambang Bencana Akibat Pemanasan Global).

Penutup.
Penghijauan lingkungan merupakan solusi tepat untuk mengatasi segala bencana akibat kerusakan lingkungan seperti banjir. Jika program penghijauan lingkungan dari hilir sampai dengan hulu Sungai Ciliwung dilaksanakan dengan baik, Proyek Kanal Banjir Barat mau pun Timur bisa difungsikan dengan optimal, dan sistem drainase diperbaiki, sampah dikelola secara benar serta pembangunan dinding penahan banjir (dam) dilaksanakan ditambah peran serta aktif segenap warga Jakarta dalam hal penghijauan lingkungan, banjir di Jakarta pasti bisa dicegah dan diatasi secara tuntas, semoga.

Mulai dari sekarang, kita tingkatkan partisipasi demi membantu Bumi mengatasi pemanasan global dimulai dari rumah masing-masing, karena sesungguhnya sangat banyak hal-hal kecil yang bisa kita lakukan seperti yang bisa dibaca disini.

Penghijauan ( Go Green ) adalah program SAYANGI BUMI yang sangat tepat untuk dijadikan solusi, agar Bumi yang cuma satu ini, tetap bisa diwariskan serta dinikmati oleh generasi mendatang yaitu anak dan cucu kita sendiri.

*) Sumber: The Live Earth-Global Warming Survival Handbook 2007, sebagaimana ditulis pada kolom ‘Kita dan Emisi’ Kompas dalam rangka KTT Kopenhagen Desember 2009.
Foto ilustrasi adalah dokumentasi pribadi, foto Taman Menteng dari jakarta.go.id, foto penanaman pohon Ecopark dari kompascetak.com

sumber :http://infosayangibumi.blogspot.com/2010/02/penghijauan-lingkungan-sebagai-solusi.html

Selasa, 25 Februari 2014

Adi cs ikut Penghijauan di Kaki Gunung Kawi




Adi cs ikut Penghijauan di Kaki Gunung KawiAdi cs ikut Penghijauan di Kaki Gunung Kawi
Sejumlah Supporter ProFauna asal Malang antara lain Adi, Hanggar, Asti, Kohar, Canakya Galerita, Didin, Didit, dan masih banyak lainnya, terlibat aktif dalam program penghijauan di Kaki Gunung Kawi yang diadakan oleh P-WEC, ProFauna dan masyarakat Desa Kucur minggu lalu (10/01/2010). Dalam penghijauan itu ditanam sekitar 2000 bibit di berbagai titik. Supporter ProFauna kebagian tempat di Bon Keke yang berjarak sekitar 2 km dari P-WEC.
Selain Supporter ProFauna, sejumlah staf ProFauna termasuk pendiri ProFauna juga ikut terjun langsung berkotor-kotor dengan lumpur untuk menanam berbagai jenis pohon yang kebanyakan didominasi jenis nangka. Meski tanah licin dan kotor, Supporter dan staf ProFauna penuh dengan semangat menanam pohon bersama masyarakat.
Usai menanam pohon, para Supporter ProFauna itu langsung mengadakan pertemuan bulanan. Dalam pertemuan yang dipandu oleh Pendiri ProFauna Rosek Nursahid itu dijelaskan tentang beberapa program terkini dari ProFauna. Salah satu program yang menarik perhatian Supporter adalah adanya divisi-divisi baru yang akan mewadahi Supporter yang ingin terlibat aktif dalam kegiatan ProFauna/P-WEC. Divisi-divisi itu adalah Divisi Kampanye, Edukasi dan Investigasi.
sumber : http://www.profauna.org/content/id/supporter/supporter-corner/2010/adi_cs_ikut_penghijauan_di_kaki_gunung_kawi.html

Penghijauan di Halaman Rumah Kita


Rumah yang sejuk , segar dan nyaman merupakan idaman dari seluruh keluarga. Agar keinginan tersebut terwujud maka perlu kita lakukan penghijauan sekitar rumah kita. Pada masa sekarang ini , terutama pada pemukiman padat penduduk sulit kita temukan halaman kosong. tiadanya halaman kosong tidak merupakan hambatan untuk melakukan pernhijauan. asal kan kita ada kemauan, kreatifitas, ketekunan dan kesungguhan semuanya akan terwujud, solusinya adalah bertanam dalam pot, secara horisontal maupun vertikal.Tanaman dalam pot memrlukan tempat yang relatif sempit, apalagi dipadu bertanam secara vertikal, dengan gantunga, rak atau dengan bambu tegak.

Bagimana tanaman dapat tumbuh segar? jika semua nutrisi dan cahaya tercukupi, tanaman golongan talas kurang perlu sinar maka kita tempatkan pada tempat yang agak dalam kurang intensitas sinar, sedang golongan palam, perlu banyak sinar. Kemudian pemupukan dan penyiraman dilakukan secara rutin. Maka tanaman akan tumbuh subur hijau warna – warna , enak dipandang, udara menjadi sejuk dan segar, rumah tampak bagai istana. Selamat menata rumah idaman dengan penghijauan.

sumber : http://dodiutomo.blogspot.com/2011/05/penghijauan-di-halaman-rumah-kita.html

Penghijauan dengan Tanaman Produktif

Setiap saya melihat pohon-pohon rindang di tepi jalan raya dan jalan tol serta taman-taman kota kok hati saya selalu bertanya-tanya kenapa ya tanaman yang ditanam oleh pemda dalam hal ini dinas pertamanan kota jarang terlihat tanaman yang menghasilkan? Bahkan ada tanaman yang berduri. Saya hanya berfikir seandainya tanaman perindang di tepi-tepi jalan adalah tanaman produktif misalnya tanaman buah, tentu disamping memberikan keteduhan dan kesegaran udara juga memberikan buah yang bermanfaat. Tentu saya juga memahami bahwa tidak mungkin untuk tanaman yang ditanam di tengah jalan menggunakan tanaman yang berbuah.

Mengamati tanaman disebagian besar rumah juga jarang terlihat tanaman hias atau tanaman perindang yang menghasilkan. Jika setiap rumah punya 5 pot yang berisi tanaman cabe atau tomat atau tanaman sayuran lainnya tentu akan memberikan penghematan buat kita. Daun slam, laos kunyit dan jahe tidak harus beli di pasar. Jika tetangga kehabisan tinggal ngambil di halaman. Kalau memang dianggap tidakk materii kan bisa penghematan itu dipakai untuk meningkatkan bonus ke assisten rumah tangga kita.
Padahal ada sebuah hadis (mohon dicek dan dikoreksi jika salah) yang kalau nggak salah bunyinya kurang lebih demikian:
Jika buah dari tanaman yang engkau tanam diambil oleh hewan maka itu adalah sedekah, jika diambil oleh manusia juga sedekah. 

Apakah pemda kita, kita tidak ingin bersedekah?
Jika iya mari kita galakkan penghijauan atau tanaman hias yang sekaligus menghasilkan, sebab itu bisa dijadikan sarana untuk bersedekah, sehingga semua mendapat berkah.

Keterangan Foto: pohon mangga samping rumah yang sudah mulai berbuah meskipun buahnya masih kecil
                           dan foto bawah setelah mangga agak besar tapi belum siap panen

sumber : http://big-sugeng.blogspot.com/2010/08/penghijauan-dengan-tanaman-produktif.html

Penghijauan


SMA Negeri 1 Betung Memdapat Bantuan 4 buah Pohon Trembesi dari Bantuan Presiden yang disampaikan oleh Dan Ramil Kecamatan Betung yang diterima langsung oleh Kepala SMA Negeri 1 Betung dan Langsung diadakan penanaman Pohon Trembesi. Terima Kasih Pak Presiden. Terima Kasih Pak Dan Ramil Kecamatan Betung


      sumber :http://smansabetung.blogspot.com/2010/11/penghijauan.html  

PENGHIJAUAN DI HULU SUNGAI CITARUM

Penghijauan Di Hulu Sungai CitarumMybdg.com – Penghijauan Di Hulu Sungai CitarumBandung – Sekitar 56 hektare lahan kritis di hulu Sungai Citarum, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, ditanami sekitar 21.000 bibit tanaman keras. Selama ini, kerusakan di hulu sungai dituding menjadi sumber utama penyebab terjadinya sedimentasi Sungai Citarum.
Kegiatan tersebut melibatkan Pemkab Bandung, Perhutani, LSM, organisasi penggiat lingkungan, dan ratusan masyarakat setempat. Penanaman pohon dilaksanakan di Kampung Pasirmunding, Desa Cibeureum. Diharapkan gerakan penghijauan ini bisa mengurangi sedimentasi, dan menjadi tempat menyimpan cadangan air ketika musim kemarau melanda.
Bupati Bandung, Dadang M. Naser menuturkan, gerakan penghijauan ini telah menjadi perhatian serius Pemkab Bandung, terutama di lahan-lahan kritis seperti di seputar hulu Sungai Citarum yang sebagian lahannya banyak digunakan oleh masyarakat setempat untuk kegiatan pertanian jangka pendek. Kini, lahan hutan itu banyak ditanami tanaman kentang dan sayuran.
Menurut Bupati, meski bercocok tanam sayuran menguntungkan, namun di sisi lain kegiatan pertanian jangka pendek di hulu Sungai Citarum membawa dampak negatif terhadap lingkungan. Sungai Citarum terus mengalami sedimentasi, sebagai akibat tanah yang berada di lahan pertanian tersebut tergerus masuk ke Sungai Citarum setiap musim hujan. “Jangankan sungai, jalan raya saja di Kertasari ini banyak tertutup lumpur akibat longsoran tanah pertanian,” ujar Dadang Naser di Kertasari, Jumat 28/12/12.
Bupati mengajak kepada seluruh warga Kertasari untuk selalu peduli terhadap kelestarian lingkungan. Ia pun meminta kepada warga setempat untuk rajin menanam berbagai jenis tanaman keras di sekitar pekarangan rumahnya masing-masing. “Kalau lingkungan di Kertasari ini rindang oleh pepohonan, yang untung warga Kertasari sendiri karena udara menjadi bersih, air melimpah, tanah menjadi kuat karena terikat oleh akar tanaman,” jelasnya. Penghijauan Di Hulu Sungai Citarum.
sumber:http://www.mybdg.com/penghijauan-di-hulu-sungai-citarum/1631/

Mandalamekar Desa Berwawasan Lingkungan


Banyak orang menyatakan bahwa saat ini kita tengah menghadapi yang namanya pemanasan global atau global warming dalam bahasa kerennya. Banyak kalangan beropini tentang bahaya yang dapat ditimbulkan dari dampak pemanasan global ini. Tapi rasanya semua masih dalam batas opini, pendapat dan anjuran semata untuk mengurangi atau bahkan menghindari dampak dari pemanasan global ini, sedangkan tindakan atau implementasi di lapangan bisa dikatakan masih jauh dari harapan.
Semua boleh beropini, semua boleh berkampanye tentang hal ini bahkan harus. Namun yang jauh lebih penting adalah tindakan nyata dalam mencegah dampak pemanasan global tersebut. salah satu cara yang paling banyak dikampanyekan adalah dengan menanam pohon, bahkan Departemen Kehutanan membuat kampanye dengan jargon “One man One tree” (satu orang satu pohon). Kampanye ini dimaksudkan agar ada aware dari masyarakat agar mau membantu pemerintah dalam mencegah efek lebih besar dari pemanasan
Tak banyak pemerintah di pedesaan yang paham dan mengerti tentang apa itu global warming, apa dampaknya dan bagaimana cara menanggulanginya? Disebuah desa terpencil yang tak pernah diperhatikan oleh pemerintah Kabupaten terlebih oleh pemerintah Provinsi dan Pusat, apa yang saat ini sedang banyak dikampanyekan diberbagai media tentang pencegahan pemanasan global sudah lama dilakukan oleh masyarakat di desa tersebut.
Desa tersebut bernama Desa Mandalamekar Kecamatan Jatiwaras Kabupaten Tasikmalaya – Jawa Barat. Desa ini memiliki sebuah program reboisasi atau penghijauan massal dan berkesinambungan, untuk merealisasikannya Tokoh Masyarakat membuat sebuah naungan berupa paguyuban dengan nama “Mitra Alam Munggaran”, diharapkan dengan adanya paguyuban ini semua program yang ada dapat terealisasi dan terarah.
Program Unggulan Penghijauan ini di mulai dengan membuat persemaian untuk benih, dan mempersiapkan lahan/ tanah desa yang tidak tergarap untuk ditanami. Yang menjadi fokus utama adalah lahan kosong di Karang Soak dan Pasir Salam, selain untuk ditanami kedua lahan didaerah ini juga nantinya akan dijadikan sebagai objek Agro wisata dan wisata alam serta Outbond.
Karena tanpa disadarai di kedua lahan tersebut begitu banyak potensi wisata yang tersimpan, seperti Air Terjun dan Gua-gua. Dalam merealisasikan program ini pemerintah desa tidak bekerja sendiri karena selain didukung paguyuban Mitra Alam Munggaran, mereka juga didukung oleh segenap masyarakat dan beberapa sekolah yang ada di desa tersebut.
Program yang sudah dimulai sejak setahun yang lalu ini, hingga sekarang sudah menanam lebih dari 5000 pohon, adapun pohon yang ditanam antara lain Pohon Picung, Pohon Karet dan Pohon Jati. Pohon-pohon tersebut diyakini memiliki ketahanan terhadap hama dan bisa menyerap air. Program Penghijauan yang digagas ini selain untuk menceag pemanasan global, juga untuk mencegah terjadinya longsor dan krisis air di masa depan. Disamping itu, hutan-hutan yang ditanami diharapkan bisa menjadi daerah resapan air dan menjadi sumber mata air bagi kelangsungan masyarakat sekitar yang sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani.
Semoga saja kesadaran kecil dari desa yang terpencil ini, bisa menggugah, bisa menjadi contoh bagi Desa yang lain bahwa dalam membangun kita tidak perlu selalu menunggu uluran tangan dari pemerintah. Inisiatif dan partisipasi masyarakat lokal akan jauh lebih bisa dirasakan hasil dan manfaatnya, karena jika kita hanya menunggu uluran tangan dari pemerintah entah tahun berapa kita bisa bangkit. Dimulai dari hal kecil yang dilaksanakan secara konsisten. 
sumber : http://denisuryana.wordpress.com/2009/12/04/mandalamekar-desa-berwawasan-lingkungan/

Penghijauan Lingkungan Sebagai Solusi Utama Agar Jakarta Tidak Terkena Banjir Besar Lagi

Lagi-lagi bencana akibat kerusakan alam dan lingkungan terjadi di puncak musim hujan kali ini. Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) terkena banjir, di sekitar Jawa Barat lainnya seperti Karawang, Indramayu tidak luput dari banjir dan bahkan Bandung Selatan dilanda banjir besar disertai bencana tanah longsor.

Banjir Besar Jakarta telah terjadi pada tahun 2002, 2007, dan kalau mengikuti siklus lima tahunan banjir besar akan terjadi lagi tahun 2012. Namun pada kenyataannya pada tahun 2008 juga terjadi dan memang terjadi lagi di tahun 2010 ini, sehingga siklusnya maju menjadi dua tahunan. Kampung Pulo sempat banjir sampai 3 meter dan merupakan areal terparah banjir Jakarta tahun ini. Banjir terjadi akibat pintu air Manggarai tidak sanggup menerima limpahan banjir kiriman dari areal hulu Bopunjur (Bogor, Puncak dan Cianjur) via pintu air Katulampa. Kesemua banjir tersebut diawali dengan hujan lebat malam dan dini hari kadang berlanjut hingga pagi hari di daerah hulu, dan akan semakin parah menjadi banjir besar, jika ditambah hujan yang terus menerus secara lokal di Jakarta. (Lihat artikel Waspadai Banjir Besar Jakarta: Antara Prediksi BMKG dan Ramalan Mama Lauren)

Dibutuhkan kebijakan yang serius, menyeluruh dalam arti tidak setengah-setengah untuk mengatasi banjir di Jakarta ini, selain letak geografisnya yang memang kurang menguntungkan karena berada di dataran rendah dekat pantai, masih banyak hal yang menyebabkan terjadinya banjir di Ibu Kota Jakarta.


Namun pasti ada solusi untuk mengatasi masalah banjir yang terus berulang, bukan hanya lima tahunan menjadi dua tahunan dan jangan sampai menjadi acara tahunan yang sungguh memalukan, mengingat posisi Jakarta yang sangat strategis sebagai Ibu kota Negara dan pintu gerbang utama Indonesia. Pada peristiwa banjir besar Jakarta yang lalu, kegiatan ekonomi ibukota nyaris lumpuh total. Jalan tol Bandara Sukarno Hatta pun tak terhindar dari banjir yang mengakibatkan jadwal penerbangan jadi turut banyak yang dibatalkan. Penghijauan Lingkungan adalah solusi utama untuk mengatasi banjir besar Jakarta agar tidak terus terulang lagi dan terulang lagi.

Penghijauan Lingkungan sebagai area resapan air dan paru-paru kota.
Untuk mendukung habitat lingkungan perkotaan, menurut PBB, idealnya disediakan ruang terbuka hijau sekitar 30 % dari luas kota yang bersangkutan. Kota Jakarta sekarang ini hanya memiliki ruang terbuka hijau tidak lebih dari 10 %. Minimnya area resapan air mengakibatkan aliran air hujan di permukaan tanah akhirnya akan menggenang dan menimbulkan banjir.

Selain berfungsi sebagai area resapan air dan ruang interaksi sosial, ruang terbuka hijau ini semakin penting artinya dalam mendukung program ‘Go Green’ dalam rangka mengatasi Pemanasan Global (Global Warming) dan Perubahan Iklim ( Climate Change) yang dialami Bumi kita, sekarang ini. Selain itu juga penghijauan berperan sebagai paru-paru kota dan menyerap polusi udara terutama gas emisi CO2 yang konsentrasinya semakin menumpuk di atmosfer Bumi membentuk lapisan yang menyebabkan suhu di Bumi semakin panas.



Hutan dan taman kota seperti di Monas dan taman lingkungan seperti Taman Menteng dan yang lainnya, sangat diperlukan bahkan diperbanyak agar penghijauan di Kota Jakarta mencapai prosentase ideal atau setidaknya mendekati ideal angka 30 %.


Kebijaksanaan Ancol mengubah lapangan golf seluas 33,6 ha menjadi wahana “Ecopark” demi mewujudkan ‘Green Ancol’pastinya lebih bermanfaat secara lingkungan. Hari Rabu (24/02) pagi, para siswa sekolah dasar di sekitar Ancol yang berjumlah ratusan murid dikerahkan untuk target menanam 10.000 pohon. Kegiatan ramah lingkungan semacam ini patut didukung dan kita apresiasi.

Di bekas lapangan golf ini, segera dibangun wahana ecopark yang berbasis edutainment. Ecopark akan dilengkapi berbagai sarana yang bisa dimanfaatkan bagi pendidikan lingkungan hidup, seperti taman flora, fauna, dan fasilitas multifungsi untuk permainan petualangan di lahan terbuka (sumber berita Kompas cetak 25/02/2010 halaman 25).


Kembalikan penyimpangan peruntukan dan penggunaan lahan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai areal terbuka hijau. 

Penyempitan alur sungai akibat bantarannya banyak digunakan untuk permukiman penduduk juga menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir. Idealnya, lahan di sepanjang DAS ini ditertibkan dan peruntukannya dikembalikan sebagai jalur areal terbuka hijau minimal 5 meter ditambah jalan inspeksi untuk perawatan sungai dan penghijauan agar tetap berfungsi secara optimal. Penanaman pohon peneduh dan rumpun bambu bisa dipertimbangkan, mengingat pohon jenis ini sangat potensial untuk berfotosintesis sekaligus menangkap emisi CO2 di udara, dikarenakan penanaman bambu seluas satu juta are akan mengurangi hingga 4,8 juta ton emisi CO2 per tahun. *)


Dengan melakukan ini, otomatis ruang terbuka hijau di Jakarta akan bertambah secara signifikan. Sebaiknya penertiban dilakukan secara manusiawi dan terencana, setelah disediakan area pemukiman baru pengganti, seperti rumah susun bersubsidi yang bisa dicicil oleh warga, khususnya mantan warga penghuni sekitar bantaran sungai. Areal pemukiman baru pengganti ini pun harus menyediakan areal terbuka hijau agar tetap sehat dan nyaman dihuni.

Hijaukan ruang terbuka di sekitar Danau Buatan Kanal Banjir Barat (KBB) dan Kanal Banjir Timur (KBT). 


Penghijauan di sepanjang DAS Ciliwung, memang sangat mendesak dan harus segera dilakukan, demikian pula dengan penghijauan di sekitar KBB dan KBT juga harus dijadikan areal terbuka hijau yang bisa meningkatkan daya serap air hujan. Jika dalam penerapannya ditata dengan baik menjadi taman ditambah jalur pejalan kaki (jogging track) untuk olahraga, tentunya sangat indah dan nyaman serta meningkatkan kualitas udara lingkungan sekitar.
Khusus KBB dan KBT, jika hutan kota disekitarnya bisa dibuat terencana dengan baik, bisa dijadikan obyek rekreasi hijau alternatif yang sangat menyehatkan bagi warga Jakarta.

Koordinasi dengan penataan penghijauan lingkungan hutan pada daerah hulu Bopunjur.Kondisi Bogor Puncak Cianjur (Bopunjur) sebagai daerah resapan air yang telah mengalami banyak perubahan fisik terutama akibat penyimpangan dalam peruntukkan lahan, berperan besar memicu aliran air hujan yang nyaris seluruhnya bisa masuk dan tumpah mengalir ke Jakarta. Banyak pohon-pohon besar di hutan hulu Sungai Ciliwung ditebang dan dikorbankan untuk dijadikan rumah peristirahatan, bangunan lain atau pun peruntukan lainnya. Idealnya penghijauan yang harus dijaga kelestariannya pada areal hulu ini minimal 30 persen, namun kenyataannya sekarang banyak yang rusak dan berubah fungsi. Oleh karena itu, penghijauan hutan kembali di areal hulu Ciliwung ini adalah mutlak harus dilakukan, agar daya resap air hujan semakin optimal serta tidak langsung masuk ke areal sungai.


Hal yang mendesak lainnya adalah dicari solusi agar air hujan terutama dengan kapasitas curah yang tinggi, dapat ditahan atau ditunda alirannya jangan langsung sekaligus tumpah ke Pintu Air Katulampa. Salah satunya dengan cara membuat ‘danau buatan’ sebagai penampung air dengan kapasitas memadai dengan lokasi sebelum masuk ke Katulampa. Danau buatan semacam banjir kanal ini berfungsi sebagai filter agar tidak semua air hujan di areal Bopunjur tumpah langsung ke Katulampa. Proyek ini bisa segera direalisasikan dengan kerjasama antar gubernur bahkan sampai tingkat kementerian karena sudah menyangkut Ibukota Negara. Peran swasta khususnya perusahaan besar di Jakarta untuk turut serta membiayai tentunya sangat diharapkan, agar masalah banjir bisa diatasi secara tuntas.

Kegiatan penghijauan hutan hulu Ciliwung dengan menanam 4 ribu pohon yang dilaksanakan Nokia (Program Nokia Give & Grow) bekerja sama dengan TES-AMM Indonesia dan WWF Indonesia patut diacungi jempol. Hal ini merupakan aksi nyata dari peran kepedulian perusahaan swasta atas masalah lingkungan yang terjadi di Jakarta sebagai ibukota Negara.

Aksi hijau penanaman pohon mulai dilakukan di area hulu daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung, desa Cikoneng, Cisarua, Bogor pada awal Februari ini dengan luasi areal sekitar 10 ha. Aksi hijau dengan cara menukar HP bekas dengan tanam pohon ini mempunyai manfaat langsung dalam mencegah terjadinya banjir di Jakarta.

Perluas Areal Penghijauan Mangrove.
Perlunya ditinjau lagi Amdal dari kebijakan reklamasi pantai di Utara kota Jakarta, terutama yang menggusur areal hutan bakau (Mangrove) yang sangat berperan menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati yang ada di sepanjang pantai utara Jakarta.


Hutan bakau merupakan perisai alam utama untuk menghadapi badai dan kenaikan muka air laut (Rob). Oleh karena itu penanaman kembali Mangrove, sangat mendesak dilakukan, khususnya dalam rangka mengatasi masalah banjir di Jakarta.

Green Building’ dan Sumur Resapan sebagai solusi ramah lingkungan.
Penerapan ‘green building’ pada Ibukota Jakarta, khususnya pada bangunan perkantoran baik pemerintah mau pun swasta, jika perlu juga diterapkan pada perumahan warga-nya. Pada ‘bangunan hijau’ ramah lingkungan ini, sumber energi menggunakan energi terbarukan dari alam seperti panel matahari atau kincir angin. Hemat energi dan air diterapkan pada operasional sehari-hari. Pada halaman dan dak atap bangunan bisa diolah menjadi taman dengan berbagai tanaman untuk menciptakan lingkungan hijau.

Karena menurut penelitian ahli lingkungan dunia:
Bila satu juta atap rumah ditanami tumbuhan, 595.000 ton CO2 per tahun dapat dikurangi.
Pemasangan 100.000 turbin angin skala rumah tangga akan mengurangi 900.000 ton CO2 per tahun.
Jika satu juta rumah menggunakan sel surya untuk sumber energinya, kita bisa mengurangi emisi karbondioksida sebanyak 4,3 juta ton per tahun. *)




Kebijakan setiap bangunan di Jakarta memiliki sumur resapanmasing-masing sangatlah positif dalam rangka mengatasi masalah banjir. Demikian pula partisipasi aktif masyarakat untuk membuat resapan air berupa bioporibeserta penghijauannya di halaman rumah masing-masing sangat berdampak positif sebagai solusi mengatasi banjir, jika sebagian besar warga mau melakukannya.

Hal-hal lain yang juga sebaiknya dilakukan sebagai solusi mengatasi banjir adalah:

Perbaiki sistem drainase dan tempat penampungan air hujan.
Saluran air di wilayah kota Jakarta banyak yang tak lagi memadai dan bahkan sering diabaikan dalam menjaga fungsi yang semestinya akibat adanya kepentingan lain. Banyak saluran air yang ‘mampet’ karena banyak sampah dan tanah bekas galian beberapa instansi secara tumpang tindih dan silih berganti, sebentar ada galian untuk PAM terus PLN nantinya lagi telpon, sepertinya tidak ada koordinasi antar instansi di pemda.

Dengan kondisi ini, sistem drainase yang ada menjadi belum optimal dalam mendistribusikan air limbah dan air hujan yang datang. Jakarta berada pada dataran rendah, malah sebagian lebih rendah dari permukaan laut. Sehingga air pasang laut (Rob) juga menjadi ancaman serius. Oleh karena itu, memerlukan suatu sistem yang terintegrasi untuk mendisribusikan air buangan ini, terutama saat terjadinya hujan.

Kemudian 'situ' (semacam danau) yang dulu pernah ada dan berfungsi sebagai penampung air, kini sudah beralih fungsi menjadi komplek hunian baru dan bahkan hampir tidak ada lagi. Untuk menggantikan fungsi situ yang hilang, pembangunan Banjir Kanal memang harus dilakukan sebagai tempat penampungan air hujan yang baru dan harus sudah tembus sampai ke laut agar genangan banjir bisa disalurkan dengan segera.

Ubah perilaku buang sampah sembarangan.
Perilaku buruk buang sampah di jalan, tampaknya hanya sepele, tapi selanjutnya sampah tersebut bisa terbawa angin masuk selokan sampai di sungai dan pintu air dan sebagian lagi terbawa arus hingga sampailah ke laut. Sampah anorganik seperti berbagai jenis plastik, styrofoam, kemasan aluminum foil bekas makanan ringan, minuman dan sebagainya, sangat mudah terbawa arus air. Betapa menyedihkan, beberapa pintu air dan sungai di Jakarta seolah telah menjadi tempat pembuangan sampah terbesar. Pada setiap peristiwa banjir, sebagian besar dari sampah tersebut akan semakin cepat masuk ke sungai bahkan sampai ke laut.

Untuk diketahui sampah non organik seperti plastik baru bisa terurai setelah mencapai ratusan tahun dan mengakibatkan terganggunya keseimbangan ekosistem aneka satwa yang ada di sungai dan laut. Oleh karenanya perlu penyuluhan untuk meningkatkan budaya bersih di masing-masing lingkungan, terutama menyangkut perilaku buang sampah sembarangan ini.

Cegah penurunan permukaan tanah agar tidak meluas.
Terjadinya penurunan permukaan tanah di wilayah Jakarta terutama di bagian Barat dan Utara, terjadi akibat tanah yang belum padat dan gencarnya pembangunan fisik untuk perumahan/perkantoran ditambah tidak terkendalinya pembuatan sumur air yang disedot langsung dari tanah.

Akibat lainnya adalah masuk dan merembesnya air laut menyebabkan air tanah berubah menjadi asin dan tidak dapat diminum. Semua area yang mengalami penurunan permukaan tanah sudah pasti menjadi wilayah genangan banjir.

Cegah banjir besar dengan pembangunan dinding penahan banjir (dam).
Pembangunan proyek Banjir Kanal Timur (BKT) sejatinya berfungsi sebagai pelengkap Banjir Kanal Barat (BKB) dan diharapkan bisa berperan untuk menampung segala tumpahan air hujan terutama pada saat kritis dipuncak musim hujan. Pada kenyataannya saat puncak musim hujan kemarin, banjir tetap melanda Jakarta, padahal BKT sudah tembus ke laut. BKT tetap berfungsi terutama dalam hal mempercepat distribusi air banjir menuju laut. Sebaiknya berbagai pihak yang terkait dalam hal mencari solusi banjir, melakukan kajian kembali. Apakah semua akar permasalahan banjir seperti tersebut di atas sudah ditangani dan dikoordinasikan dengan baik atau belum sepenuhnya ?

Hal-hal tersebut di atas jika dilaksanakan dapat meminimalkan bencana terjadinya banjir. Secara makro kita bisa belajar dari Negara Belanda yang wilayahnya di bawah permukaan air laut tapi tetap mampu mengelolanya, agar tidak terjadi banjir.
Secara mikro, di saat Jakarta dilanda banjir besar tahun 2008 ada satu lingkungan di sekitar Muara Karang Pluit Jakarta Utara, yang biasanya selalu langganan banjir, bisa terhindar dari bencana ini, sementara Kelapa Gading dan sebagian besar areal Jakarta saat itu terkena banjir besar (Informasi ini didapat dari teman penulis yang kebetulan tinggal disana). Lalu, mengapa bisa ?
Ya… bisa dicegah !!! Karena seluruh warganya secara bahu membahu mau tahu dan mau bergotong royong untuk membeli pompa air yang selalu siap berfungsi menyalurkan air dari sungai penampung untuk disalurkan ke bendungan sungai banjir kanal yang menuju ke laut.

Hal yang sama tentunya bisa diterapkan pada sungai banjir kanal baik yang sudah ada di Barat mau pun di Timur, dilakukan peninggian dinding penahan banjir seperti dam pada salah satu tepi sungai minimal 150 cm dari muka jalan raya (bisa juga disesuaikan dengan kondisi peil banjir besar yang lalu), di sepanjang aliran sungai banjir kanal yang menuju ke laut. Tentunya hal ini harus dilengkapi dengan keberadaan sungai pembagi dan penampung di sepanjang tepi Sungai utama banjir kanal. Dan yang paling penting disediakan pompa air yang selalu siap dalam kondisi prima untuk menyalurkan ke Sungai utama banjir kanal dan dalam jumlah yang sangat memadai disesuaikan dengan jumnlah kebutuhan di lapangan.

Belajar dari pengalaman Negara Belanda, kita pun bisa mulai menerapkan pemasangan dam (bendungan) disepanjang pantai utara Jakarta untuk mengimbangi dinding dam tepi sungai pada KBB mau pun KBT. Hal ini juga diperlukan sebagai antisipasi menghadapi kenaikan peil muka air laut akibat mencairnya es di kutub utara dan selatan yang akan menjadi kenyataan jika warga Bumi kurang peduli pada bahaya Pemanasan Global (Baca juga: Indonesia Di Ambang Bencana Akibat Pemanasan Global).

Penutup.
Penghijauan lingkungan merupakan solusi tepat untuk mengatasi segala bencana akibat kerusakan lingkungan seperti banjir. Jika program penghijauan lingkungan dari hilir sampai dengan hulu Sungai Ciliwung dilaksanakan dengan baik, Proyek Kanal Banjir Barat mau pun Timur bisa difungsikan dengan optimal, dan sistem drainase diperbaiki, sampah dikelola secara benar serta pembangunan dinding penahan banjir (dam) dilaksanakan ditambah peran serta aktif segenap warga Jakarta dalam hal penghijauan lingkungan, banjir di Jakarta pasti bisa dicegah dan diatasi secara tuntas, semoga.

Mulai dari sekarang, kita tingkatkan partisipasi demi membantu Bumi mengatasi pemanasan global dimulai dari rumah masing-masing, karena sesungguhnya sangat banyak hal-hal kecil yang bisa kita lakukan seperti yang bisa dibaca disini.

Penghijauan ( Go Green ) adalah program SAYANGI BUMI yang sangat tepat untuk dijadikan solusi, agar Bumi yang cuma satu ini, tetap bisa diwariskan serta dinikmati oleh generasi mendatang yaitu anak dan cucu kita sendiri.

*) Sumber: The Live Earth-Global Warming Survival Handbook 2007, sebagaimana ditulis pada kolom ‘Kita dan Emisi’ Kompas dalam rangka KTT Kopenhagen Desember 2009.
Foto ilustrasi adalah dokumentasi pribadi, foto Taman Menteng dari jakarta.go.id, foto penanaman pohon Ecopark dari kompascetak.com

sumber :http://infosayangibumi.blogspot.com/2010/02/penghijauan-lingkungan-sebagai-solusi.html